KEPEMIMPINAN
v PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kata kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing atau menuntun kemudian ada kata “pemimpin” yaitu orang yang bertugas memimpin/menuntun/orang yang membimbing atau dapat juga diartikan seorang yang memiliki kemampuan untuk menggerakan orang-orang untuk mencapai tujuan tertentu atau tujuan bersama. Sedangkan “kepemimpinan” adalah kemampuan menggerakkan atau membimbing orang-orang untuk bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
v TUJUAN KEPEMIMPINAN
Tujuan hidup menurut ajaran agama hindu adalah tercapainya kesejahteraan hidup jasmani “jagadhita” dan kebahagiaan hidup rohani “moksa”. Untuk mewujudkan tujuan hidup itu umat hendaknya melakukan ajaran “Catur Purusartha”, yaitu empat tujuan hidup manusia yang terdiri dari: dharma,artha,kama,dan moksa. Bentuk kerjasama yang sangat permanen dan lengkap itu untuk umat manusia disebut dengan nama “Negara”. Negara sebagai wadah manusia untuk mewujudkan cita-cita hidupnya memiliki 4 prinsip dasar yaitu:
1. Machstaat adalah prinsip negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan untuk diabdikan kembali pada tujuan negara itu.
2. Rechtstaat adalah prinsip negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan negara agar berbagai keadaan dan kepentingan yang berbeda-beda dapat diatur dalam rangka mempercepat tercapainya tujuan negara.
3. Polisistaat adalah suatu prinsip negara yang memandang segala seluk beluk kehidupan negara harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan demi terwujudnya tujuan negara tepat pada sasarannya.
4. Supervisorystaat adalah prinsip negara yang memandang bahwa fungsi negara ialah mendorong segala unsur-unsur negara untuk lebih mencapai tujuan.
v FUNGSI KEPEMIMPINAN
Setiap orang dalam hidup dan kehidupan pasti memiliki kewajiban dan hak. Kewajiban adalah tugas yang harus dilakukan sedangkan Hak adalah sesuatu yang menjadi wewenangnya untuk diambil. Begitu juga dengan seorang “pemimpin” yang memiliki tugas/kewajiban dan wewenang/hak. Dalam kitab suci weda menyebutkan bahwa:
“Sweswe dharma niwistanam sarwesamapurwacah, warnananmasramanam ca raja srsto, bhiraksita”
(Manawa Dharmasastra,VII.35)
Yang artinya:
“Raja/pemimpin telah diciptakan untuk melindungi warna dan aturannya yang semuanya itu menurut tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.” Ada beberapa hal yang berhubungan dengan tugas dan wewenang seorang pemimpin dalam kepemimpinannya:
1. Planing atau perencanaan
Planing adalah suatu pemikiran, perencanan, persiapan, keputusan, dan penerapan yang dilakukan sebagai suatu kegiatan dari seorang pemimpin.
2. Organisation atau pengelompokan
Organisation adalah usaha untuk mengelompokkan atau menata kegiatan-kegiatan yang telah dicantumkan dalam perencanaan.
3. Direkting
Direkting adalah mengusahakan agar rencana pekerjaan itu dapat dilaksanakan.
4. Coordination
Coordination adalah tindakan untuk memperoleh dan memelihara kesatuan diantara perorangan/bagian, karena usaha yang satu secara konstan merupakan bagian/pelengkap dari usaha-usaha lainnya.
5. Controlling
Controlling adalah pengawasan terhadap rencana yang telah dilaksanakan oleh pemimpin, untuk memperoleh keyakinannya.
v Asas – asas kepemimpinan
1. Panca dasa pramiteng prabhu
Dalam kitab “Negara Kertagama”,rakawi prapanca melukiskan keutamaan asas-asas kepemimpinan yang patut dipedomi oleh setiap pemimpin. Asas-asas kepemimpinan yang tertuang dalam kitab Negara Kertagama tersebut sejalan dengan sifat-sifat pemimpin besar bangsa Indonesia, yaitu Gajah Mada sebagai maha patih kerajaan majapahit. Dinyatakan ada 15 keutamaan sifat-sifat Gajah mada menurut Rakawi Prapanca yang disebut Panca Dasa Pramiteng Prabhu. Kata Panca Dasa Pramiteng Prabhu terdiri dari kata Panca artinya lima, Dasa artinya sepuluh, Pramiteng artinya sifat yang utama, Prabhu artinya pemimpin/raja. Jadi Panca dasa pramiteng prabhu adalah lima belas macam sifat utama yang patut dipedomi dan dilaksanakan oleh setiap pemimpin dalam memimpin masyarakat/bangsa dan negara. Sifat – sifat utama pemimpin hindu yaitu:
a. Wijaya, artinya berlaku bijaksana dan penuh hikmat dalam menghadapi masalah yang sangat penting.
b. Mantriwira, artinya bersifat pemberani dalam membela negara.
c. Wicaksanengnaya, artinya sangat bijaksana dalam memimpin.
d. Natanggwan, artinya mendapat kepercayaan dari rakyat dan negara.
e. Satyabhakti aprabhu, artinya selalu setia dan taat pada atasan.
f. Wakmiwak, artinya pandai berbicara baik didepan umum maupun berdiplomasi.
g. Sarjawaupasawa, artinya bersifat sabar dan rendah hati.
h. Dhirotsaha, artinya bersifat teguh hati dalam segala usaha.
i. Teulelana, artinya bersifat teguh iman, selalu riang atau optimis dan antusias.
j. Dibyacita, artinya bersifat lapang dada atau toleransi dapat menghargai pendapat orang lain.
k. Tansatresna, artinya tidak terikat pada kepentingan golongan/pribadi yang bertentangan dengan kepentingan umum.
l. Masihsatresnabhuwana, artinya bersifat menyayangi isi alam.
m. Ginengpratidina, artinya setiap hari berusaha berbuat baik dan berusaha tidak mengulangi perbuatan-perbuatan buruk.
n. Sumantri, artinya bersifat menjadi abdi negara dan penasihat yang baik,
o. Anayakenmusuh, artinya mampumembersihkan musuh-musuh negara.
2. Sad Warnaning Raja Niti
Kata sad Warnaning Rajaniti berasal dari bahasa sansekerta. Dari kata Sad artinya enam, Warnaning artinya kesan yang diperoleh; corak rupa; corak; ragam; sifat yang utama, Raja artinya debu; abu; tepung sari; bunga, Niti artinya kemudi; pimpinan; politi dan social etik; pertimbangan; kebijaksanaan( kamus kecil sansekerta-indonesia). Jadi “Sad Warnaning Raja Niti” adalah enam kesan, corak, dan sifat yang utama sebagai persyaratan kepemimpinan bagi seorang raja atau pemimpin yang harus dilaksanakan dalam kepempinannya guna memimpin bangsa dan negara. Bagian – bagian dari Sad Warnaning Raja Niti sebagai berikut:
1. Abhigainnika, artinya seorang pemimpin harus mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat, bangsa, dan negara yang dipimpinnya.
2. Prajna, artinya seorang pemimpin harus memiliki daya kreatif yang benar yang sesuai dengan dharma guna memimpin bangsa dan negara ini.
3. Utsaha, artinya seorang pemimpin harus memiliki daya kreatif yang luhur memajukan kepentingan masyarakatnya.
4. Sakya Samanta, artinya seorang pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik untuk menjadi lebih baik.
5. Atma sampad, artinya pemimpin harus memiliki moral yang baik dan luhur yang dapat dipedomi oleh bawahannya dan masyarakat yang dipimpinnya.
6. Aksudra Parisatha, artinya seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memimpin persidangan para mentrinya dan menarik kesimpulan yang bijaksana, sehingga dapat diterima oleh semua pihak.
3. Panca Upaya Sandhi
Kata Panca Upaya Sandhi terdiri dari kata, Panca artinya lima, Upaya artinya usaha; akal;ikhtiar; (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar), Sandhi artinya rahasia; kode; berita. Jadi Panca Upaya Sandhi adalah lima macam usaha dan upaya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan persolan serta tantangan yang menjadi tanggung jawabnya. Ajaran Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabuddha Gama Tattwa. Bagian – bagian dari ajaran Panca Upaya Sandhi Yaitu:
a. Maya, artinya seorang pemimpin hendaknya memiliki dan melakukan upaya dalam pengumpulan data atau permasalahan yang belu jelas kedudukan dan profesinya, sehingga dapat dilakukan penataan lebih lanjut untuk mencapai kesempurnaan.
b. Upeksa, artinya seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk meneliti dan menganalisis semua data dan informasi yang ada, sehingga semua permasalahan yang dihadapi itu dapat diletakkan pada proporsinya.
c. Indrajala, artinya seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk mencarikan jalan keluar setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang dipimpinnya.
d. Wikrama, artinya seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk melaksanakan semua rencana dan rumusan yang telah diprogramkan sebelumnya.
e. Logika, artinya seorang pemimpin dalam melaksanakan semua tindakannya, hendaknya selalu didahului dengan pertimbangan nalar yang sehat dan dapat diterima oleh masyarakat.
Terkait dengan uraian diatas, sastra agama menjelaskan sebagai berikut:
“Nihan bratani Sang Hyang Indra lapan sira ngudanaken tumrepting jagat. Sira ta tulandanta Indra Brata. Subhanaya undanta menghyabirat”.
( Kekawin Ramayana, 21.11)
Artinya :
Inilah bratanya Sang Hyang Indra yang patut diikuti. Beliaulah yang menurunkan hujan untuk kemakmuran jagat. Beliau patut diikuti yang disebut Indra Brata. Sangat utama tujuan itu yang menyuburkan rakyat.
4. Nawa Natya
Kata Nawa Natya terdiri dari kata Nawa artinya Sembilan, Natya artinya teguh; bertata susila(Kamus Bahasa Bali-Indonesia,125). Jadi Nawa Natya adalah Sembilan sifat dan sikap teguh serta bersusila yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan para pembantunya, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa dan negara yang dipimpinnya. Bagian-bagian dari ajaran Nawa Natya antara lain:
a. Pradnya Widagda, artinya seorang yang bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan serta teguh pendirian.
b. Wira sarwa yudha, artinya pemberani, pantang menyerah dalam menghadapi berbagai masalah atau tantangan.
c. Paramartha, artinya para pemimpin hendaknya memiliki sifat yang mulia dan luhur.
d. Dhirotsaha, artinya para pemimpin hendaknya memiliki ketekunan dan keuletan dalam semua pekerjaan.
e. Pragiwakya, artinya para pemimpin pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi.
f. Samaupaya, artinya para pemimpin hendaklah setia pada janji yang dibuatnya dengan pihak lain atau masyarakat.
g. Laghawangartha, artinya para pemimpin hendaknya tidak bersifat pamrih terhadap harta benda dalam hidup ini.
h. Wruh ring Sarwa Bastra, artinya para pemimpin tahu cara mengatasi macam-macam kerusuhan.
i. Wiweka, artinya para pemimpin dapat membedakan man yang benar dan mana yang salah.
“Bhatara Rawi mangisep wilana endi tan kara caneh-caneh de nira. Samangkana kita talap pangguhen tatar gelis yeka surya brata”
( Kakawin Ramayana,21.13)
Artinya :
Beberatan Sang Hyang Surya adalah mengisap air. Tidak dengan tergesa-gesa tetapi sangat berhati-hati beliau. Agar seperti beliaulah caranya bekerja, menunjukkan pembuktian dengan tidak tergesa-gesa. Itulah beberatan Sang Hyang Surya